0
Dikirim pada 12 Februari 2016 di Uncategories

sewa kantor murah di jakarta - Walaupun sedang tumbuh pesat, business jasa kantor maya bukan tidak dengan rintangan. Office Plus dan Ketano, dua perusahaan penyedia jasa penyewaan kantor maya, mengaku menghadapi tantangan yang sama : kantor virtual dipakai untuk tujuan-tujuan negatif. Sbg sampel, kadang ada perusahaan abal-abal memanfaatkan virtual office demi pengajuan kredit card atau memenangkan tender.

Tapi, situasi ini bukan tidak dengan solusi. Lince Atmadja, Manajer Pemasaran Ketano, menjelaskan, untuk meminimalisir upaya kriminil, pihaknya telah jalankan beraneka ragam upaya. Antara lain bersama memperketat persyaratan administratif dan laksanakan verifikasi, meskipun yang terakhir ini dilakukannya dengan cara acak saja. Terhadap Pegawai bank yang laksanakan verifikasi, mereka serta dapat memaparkan bahwa kliennya cuma penyewa kantor virtual.

Office Plus bahkan memberlakukan peraturan lebih ketat. Sejak awal mereka menciptakan perjanjian bersama calon klien supaya tak memanfaatkan media kantor maya buat terhubung permodalan, penerapan kartu non tunai, dan tender. Kendati demikian, mereka tetap saja kecolongan. Tiap-tiap th senantiasa saja ada perusahaan kliennya yang cobalah nakal. "Kemarin saja aku baru pulang dari kantor polisi," tutur Eddy Yansen, Direktur Office Plus, berterus jelas. Untungnya, sewaktu ini senantiasa sanggup diselesaikan dgn baik berkat hubungan kerja bersama pihak kepolisian dan korban.

Tantangan lain muncul dari warga yang terkesan belum dapat "menerima" kedatangan kantor maya. "Oh ia hanya sewa alamat kantor, dengan cara apa ingin menjalankan usaha?!" tutur Lince menirukan komentar orang.

Citra negatif itulah yang cobalah ditepis Eddy dan Lince. Kantor virtual bukan penipuan sebab penyewanya benar-benar melaksanakan gerakan dan menyewa kantor. Bukan kosong. "Namun dapat menjadi penipuan jikalau mereka mengaku kantor ini milik mereka. Ini beda kasus antara menyewa dan mengaku mempunyai kantor sendiri. Beda sekali," ujar Eddy.

Tulus Abadi, anggota pengurus harian Yayasan Instansi Costumer Indonesia (YLKI), pun menegaskan opini yang sama. Dari segi costumer, pemakaian virtual office tak masalah asalkan alamatnya sanggup diakses oleh penduduk. Contohnya, mampu dihubungi via telpon. Tapi Tulus tidak menyangkal bila model ini berisiko agung sebab berpotensi berjalan penipuan. "Publik susah mengetahui apakah perusahaan itu berbadan hukum atau alamatnya benar atau tak," kata Tulus.

Di hari depan, seiring tumbuhnya semangat kewirausahaan, pemakaian kantor maya diperkirakan konsisten meningkat. Sebab itu, Tulus menginginkan pemerintah mengeluarkan regulasi yang lebih ketat. "Jangankan virtual; perusahaan yang memiliki kantor beneran saja tidak sedikit yang terlibat penipuan," timpal dirinya.



Dikirim pada 12 Februari 2016 di Uncategories
comments powered by Disqus


connect with ABATASA